SELAMAT BERGABUNG DENGAN BLOG KAMI, SEMOGA BERMANFAAT DAN KIRANYA TUHAN DIPERMULIAKAN ATAS SEGALANYA.

Rabu, 14 Juli 2010

TEOLOGI PEMBEBASAN

PENGHARAPAN
MENURUT
(AMERIKA LATIN)

I. PENDAHULUAN
Usaha-usaha untuk membicarakan teologi atau teologi-teologi pembebasan di dalam khasanah keilmuan di Indonesia sudah dirintis oleh Suryawasita (1975), Mangunwijaya (1982), Sumartana (1982), Hardawiryana (1983), Magnis-Suseno (1984), Tanya (1985), dan Banawiratma (1985).
Teologi Pembebasan , terdiri dari kata teologi dan pembebasan. Menurut Karl Rahner dan Herbert Vorgrimler (1965) , istilah “teologi” berasal dari kata Yunani deo logi (theologi) yang berarti pembicaraan tentang tuhan-tuhan atau Tuhan, khususnya secara legendaris atau filosofis. “teologi” pada dasarnya adalah usaha yang sadar dari orang Kristiani untuk mendengarkan bisikan wahyu-sabda yang dinyatakan oleh Tuhan dalam sejarah, menyerap pengetahuan tentangnya dengan menggunakan metode-metode keilmuan dan untuk merefleksi tuntutan-tuntutan langkahnya pada tindakan. Dalam rumusan Segundo (1974), pernyataan wahyu-sabda dalam sejarah (Rahner dan Vorgrimler) dimengerti sebagai dampak dari sabda dan dogma yang diimani, dalam praksis sejarah. Di Amerika Latin hal itu berarti iman dalam tantangan sejarah perjuangan untuk “pembebasan”. Istilah pembebasan yang khas Amerika Latin hendak diterangkan kemudian. Rubem Alvas (1975) merumuskan teologi sebagai “ilmu pengetahuan bagi orang-orang yang kehilangan taman firdausnya atau belum mendapatkannya. Sebuah pencarian titik-titik acuan, cakrawala baru yang memungkinkan manusia menemukan arti hidup di tengah kekacauan yang membenamkan dirinya”.
Istilah “pembebasan”, istilah yang muncul khas Amerika Latin baru pada Dokumen Medellin (1968), semula merupakan istilah yang dibakukan sebagai reaksi terhadap istilah “pembangunan” yang hidup subur, baik di Amerika Latin maupun di bagian bumi lainnya. Istilah “pembangunan” membawa misi sistem ekonomi politik liberal kapitalis. Sistem tersebut mengetengahkan dalil bahwa ekonomi politik akan merata hasilnya kepada semua pihak apabila mekanisme pertukaran pasar dibiarkan berjalan dengan sendirinya. Namun pada prakteknya, sistem ekonomi politik liberal kapitalis di negara-negara berkembang, termasuk Amerika Latin justru menimbulkan jurang yang semakin dalam antara yang miskin dan kaya, antara negara yang miskin dan negara yang kaya. Ketergantungan serta proses periferalnya semakin tajam, negara miskin yang diperiferi semakin tergantung pada negara kaya. Contoh kasus utang dan hubungan dagang internasional. Situasi ini oleh CELAM II di Medellin disadari sebagai kekerasan yang menginjak si miskin yang telah menjadi lembaga (institutionalized violence). Oleh karena itu, istilah “pembangunan” tidak lagi menjadi istilah yang mengungkapkan kerinduan rakyat, tetapi istilah yang sudah menjadi milik kaum penindas dan penguasa untuk membenarkan praktik penindasannya. Istilah yang cocok untuk rakyat yang tertindas adalah “pembebasan”.
Bertentangan dengan tuduhan para kritikus teologi pembebasan, hampir semua teolog pembebasan memberikan arti yang utuh dan integral terhadap istilah “pembebasan”. Gutierrez (1973), Ronaldo Munoz (1974), dan Segundo Galilea (1975) dan Leonardo Boff (1974) memberikan matriks “pembebasan” yang berkaitan satu sama lain, yaitu:
1. Pembebasan dari belenggu penindasan ekonomi, sosial dan politik (Gutierrez), atau alienasi kultural (Galilea), atau kemiskinan dan ketidakadilan (Munoz).
2. Pembebasan dari kekerasan yang melembaga yang menghalangi terciptanya manusia baru dan digairahkannya solidaritas antar manusia (Guiterrez), atau lingkaran setan kekerasan yang menantang orang untuk berperan serta dalam kematian Kristus (Galilea), atau praktik-praktik yang menentang usaha pemanusiaan manusia sebagai tindakan pembebasan Tuhan (Munoz).
3. Pembebasan dari dosa yang memungkinkan manusia masuk dalam persekutuan dengan Tuhan dan semua manusia (Guiterrez), atau pembebasan spritual menuju pemenuhan Kerajaan Allah (Munoz), atau pembebasan mental, yakni penerjemahan dan penginkarnasian iman dan cinta dalam sejarah yang konkrit yang ditandai oleh Salib Kristus sebagai salib cinta yang mengalahkan kuasa dosa yang terjelma dalam situasi kekerasan (Galileo).
Kritik atas teologi pembebasan adalah: dianggap sebagai bagian dari teologi tradisional yakni teologi Kerajaan Allah, merekomendasikan revolusi eksklusif politik dan mengesampingkan pembebasan total dari kuasa dosa, mempergunakan analisis Marxis yang mencanangkan pertentangan kelas, dan mengesampingkan penyelesaian kooperatif, mendorong penggunaan kekerasan dan menunda cinta, mengingkari kemiskinan Injili dan sebagai gantinya mempergunakan konsep kemiskinan proletariat, mengesampingkan hierarki dengan magisteriumnya dan sebagai gantinya memakai analisis Marxis, dan menutup mata terhadap kandungan “totalitarian” dalam masyarakat sosialis yang dicita-citakan dan terlalu agresif mengkambinghitamkan kapitalisme. Pada pembahasan berikutnya akan diungkapkan pembahasan yang dengan sendirinya akan memberikan jawab atas kritikan-kritikan di atas.

II. TEOLOGI PEMBEBASAN SEBAGAI GEBRAKAN BARU

Teologi pembebasan Amerika Latin, oleh Dussel (1981) mulai berkembang tahun 1962. Segundo (1977) memberikan prakiraan waktu yang kurang lebih sama yakni sebelum gelombang pertama Konsili Vatikan II. Lain dari Dussel dan Segundo, Vidales (1977) menyebutkan tahun 1965, tahun terbitnya konstitusi pastoral Gaudium et Spes. Oleh Dussel, lahirnya teologi pembebasan melalui tiga tahap perkembangan. Tahap pertama, babakan persiapan berlangsung dari tahun 1962 sampai konferensi para uskup Amerika Latin di Medellin tahun 1968. Teologi pembebasan pada kurun waktu ini masih mempunyai ciri tinjauan kemasyarakatan yang dipengaruhi oleh aliran ilmu sosial “pertumbuhan ekonomi” atau “pembangunan”. Tahap kedua berlangsung dari tahun 1968 sampai tahun 1972. Pada masa ini refleksi teologi pembebasan mengalami pembakuan. Menurut Hugo Assmann, pada kurun waktu ini konferensi dan simposium mengenai teologi pembebasan sudah menjadi umum di Amerika Latin. Misalnya simposium internasional di Bogota, Colombia, tanggal 2-7 Maret 1970; pertemuan para ahli Kitab Suci yang membahas tema “eksodus dan pembebasan” di Buenos Aires, Argentina pada bulan Juli 1970, juga seminar-seminar di Ciudad Juarez, Meksiko, Buenos Aires lagi yang dihadiri oleh kalangan gereja non-Katholik. Dengan terbitnya buku A Theology of Liberation dari Pastor Peru, Gustavo Guiterrez, tahun 1971, dan telah diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia, menjadikan teologi pembebasan semakin dikenal. Pertemuan “orang-orang Kristiani untuk sosialisme” di Santiago, Chili, pada bulan April 1972, gerakan teologi pembebasan telah menjadi radikal secara politik dan teologis. Sedangkan tahap ketiga dan terakhir, terjadi tahun 1972 sampai sekarang, yakni tahap “penjeblosan ke dalam penjara” dan “pembuangan” oleh rezim militer di kebanyakan negara-negara Amerika Latin.
Penyebarluasan teologi pembebasan ke seluruh dunia dimulai dengan pertemuan para teolog Eropa di El Escorial, Spanyol, pada tahun 1972 yang bertema “Iman Kristiani dan Perubahan Sosial di Amerika Latin”. Disusul dengan pertemuan di Mexico City (1975), dengan tema “ Pembebasan dan Penjeblosan dalam Penjara”, dan pertemuan di Amerika Utara, Detroit, USA tahun 1975, dengan tema “Teologi di Amerika Tahun 1975”.
Di Afrika dan Asia, pertemuan-pertemuan para teolog teologi pembebasan juga terjadi, hingga dikukuhkannya EATWOT (Ecumenical Association of Third World Theologians), tahun 1976 di Dar-es Salaam. EATWOT telah menyelenggarakan tujuh kali pertemuan , dan sidang EATWOT ke VII berlangsung di Hong Kong tahun 1984.

III. PRAKSIS GEREJA AMERIKA LATIN UNTUK PEMBEBASAN
Camilo Torres, sosiolog, pastor, seorang gerilyawan yang mati terbunuh di pegunungan berhutan di Bucaramanga, Colombia, tanggal 15 Februari 1966 . Nestor Paz, mahasiswa kedokteran, dalam umur 25 tahun mati kelaparan sebagai gerilyawan di tebing sungai , di Teoponte, Bolivia, tanggal 8 Oktober 1970. Pater Jhon-Bosco Burnier S. J., pastor desa, mati terkena pelor seorang kopral polisi desa. Ia mencoba melepaskan dua wanita desa yang disiksa secara brutal, setelah yang satu, yang baru melahirkan, diperkosa beramai-ramai oleh kawan-kawan si kopral. Pater Rutilio Grande S. J., pastor desa, disiksa dan dibantai oleh the White Warrior Union (Pasukan Penjagal Manusia dan Pelindung Tuan Tanah) di San Salvador, Amerika Utara, tanggal 12 Maret 1977. Uskup Agung Oscar Arnulfo Romero, Uskup Agung San Salvador, diberondong mesiu ketika hendak mengangkat persembahan pada misa mengenang arwah para pastor dan awam yang belum lama dimartir, terjadi tanggal 24 Maret 1980. Pada tahun yang sama, satu pastor, dua suster Maryknoll, satu suster Ursuline, dan satu wanita missionaris awam, kecuali pastor, semua berkebangsaan Amerika, dibantai oleh tentara pemerintah di tengah perjalanan tugas kerasulan. Praksis mereka adalah praksis untuk pembebasan manusia. Bukan saja pembebasan dari kendala sosial, ekonomi dan politik di dunia, melainkan pembebasan yang utuh dan menyeluruh sebagaimana manusia dicintai Tuhan Allah untuk berpartisipasi dalam citra-Nya.
Tinjauan atas praksis gereja Amerika Latin untuk pembebasan manusia mengikuti 3 tahapan kronologis yang diajukan oleh Dussel (1981) :
1. Zaman Kerajaan Kristiani West Indies (1942-1808)
Pada perjalanannya yang pertama ke West Indies, pada tahun 1492, Columbus membawa Pastor Bernard Bryl. Tak lama kemudian, tahun 1505, pater-pater Ordo Fransiskan mendirikan Missi di West Indies, dan tahun 1511 telah mendirikan tiga keuskupan. Dengan ditundukkannya Meksiko tahun 1519 oleh Hernan Cortes, ia membawa Pater Bartolome de Olmiedo dan Juan Diaz untuk mengkristenkan orang-orang Indian. Cara pengkristenan dilakukan secara massal dan kilat. Hasilnya, lahirlah 15 keuskupan baru. Atas pengaruh Bartolome de Las Casas, sebagian Uskup memihak kepada mereka yang tertindas dan miskin, khususnya orang-orang Indian. Mereka memproklamasikan diri sebagai “pelindung orang-orang Indian”. Dengan berakhirnya Dinasti Hapsburg di bawah Charles II (1665-1700), Spanyol yang berada di bawah pengaruh Bourbon, Philippe V mengalami kemunduran. Inggris berhasil merebut Jamaica tahun 1655. Dengan Traktat Utrect tahun 1713, kekuasaan Portugis dan Spanyol telah sangat surut. Inggris menggantikan posisi mereka.

2. Zaman Kerajaan Kristiani Kolonial (1808-1962)
Revolusi kemerdekaan, 1808-1852, dimotori kaum borjuis Kreole (keturunan Spanyol di Amerika Latin). Mereka berhasil menggeser kekuasaan kaum kolonial. Mengikuti Revolusi Perancis, kaum borjuis mencanangkan program pembaharuan model ekonomi liberal kaum fisiokrat, seperti Adam Smith (1776) dan David Ricardo (1817). Sistem kerajaan diganti dengan sistem perwalian demokrasi. Kaum borjuis menguasai 80 % pemerintahan, dominasi uang dan politik. Dalam hal ini gereja mengakrabkan diri dengan penguasa baru, meninggalkan rakyat kebanyakan, orang-orang Indian dan Negro.
Pada periode 1930-1962, praksis gereja di Amerika Latin ditandai dengan bangkitnya peranan kaum awam dan kaum intelektual. Gereja mempelopori tingkat intelektual dengan mendirikan universitas Javeriana di Bogota, Colombia (1937). Unoversitan Katholik di Lima (1942), di Rio de Janeiro dan San Paulo (1947), Buenos Aires dan Cordoba (1960), Valparaiso dan Centroamericana di Guatemala (1961). Bersamaan dengan pendirian universitas, mulai juga muncul Aksi-aksi Katholik. Berturut-turut didirikan Aksi Katholik di Cuba (1929), di Argentina (1930), Uruguay (1934), di Costa Rica dan Peru (1935), dan di Bolivia (1938). Peranan Aksi Katholik sebagai organisasi awam di Amerika Latin amat kuat. Organisasi pemuda Aksi Katholik amat cepat pula pertumbuhannya, pada tahun 1961, anggotanya sudah mencapai 120.000 orang.
Organisasi profesi kaum awam, seperti Serikat Buruh Nasional, juga cepat pertumbuhannya. Pada tahun 1960-an hampir semua negara Amerika Latin mempunyai Serikat Buruh Nasional, semua ada 23 serikat buruh, dengan anggota militan sekitar satu juta orang. Di pihak hierarki terjadi pula perubahan besar. Para Uskup Amerika Lati bergabung dalam Sidang para Uskup Amerika Latin (CELAM). Sistem patronato ditinggalkan. Praksis gereja untuk pembebasan akhirnya membebaskan gereja itu sendiri dari jerat dan belenggu patronato yang sudah berabad-abad lamanya.

3. Zaman Oligarki (1962- sekarang)
Zaman Oligarki dimulai dari negara Nicaragua, pindah ke Colombia, Bolivia, Argentina, Chili, dan Paraguay hingga ke Brasilia dan El Salvador.
a. Nicaragua
Amerika Serikat menguasai ekonomi Caribbia sejak awal abad ke dua puluh. Perusahaan listrik dan perkeretaapian dikuasai modal Amerika Serikat. Dengan 2.700 US-Marines, Amerika Serikat menduduki Nicaragua dari tahun 1912-1933. Pada tahun 1936-1979, Anastasio “Tancho” Somosa menjadi diktator. Gerilyawan Sandinista bersama rakyat berhadapan dengan oligarki Amerika Serikat, penguasa perkebunan, dan tentara, serta tuan tanah.
Pada bulan Juli 1979, Daniel Ortega bersama gerilawan Sandinista berhasil menggulingkan Somosa. Dalam pemerintahan yang baru, duduk pula dalam kabinet Sandinista tiga imam, dua diantaranya kakak beradik Ernesto Cardenal dan Fernando Cardenal. Pada tahun 1985, Amerika Serikat memberlakukan embargo ekonomi atas Nicaragua, dan Nicaragua melakukan pendekatan ke Uni Soviet.

b. Colombia
Negara Colombia sudah sarat dengan kekerasan sejak kolonisasi masuk ke Benua Amerika bagian Selatan. Pada tahun 1948, pemimpin Partai Liberal, Jorge E. Guitan dibunuh di tengah jalan. Pada tahun 1953, ada 200.000 orang melayang jiwanya dalam coup d’tat yang dilancarkan oleh Jendral Pinilla. Dalam gerakan gerilya, Romo Camilo Torres sampai melibatkan diri pada penggunaan kekerasan subversif untuk melawan kekerasan represif yang dilancarkan pemerintah dan tentara.

c. Bolivia, Argentina, Chili, dan Paraguay
Bolivia terkenal dengan pahlawan gerilya Ernesto “Che” Guevara dan Nestor Paz. Argentina terkenal dengan Juan Peron. Chili dengan Presiden sosialis, Allende. Paraguay dengan para pejuang-pejuangnya, termasuk para pastor, yang dibunuh karena ikut mendukung perjuangan orang-orang Indian untuk hidup layak sebagai manusia.

d. Brasilia
Penduduk Brasilia yang berbahasa Portugis jumlahnya pada saat ini sekitar 120 juta orang. 70 % diantaranya hidup di kota-kota besar seperti Sao Paulo dan Rio de Janeiro. Penduduk Indian pada tahun 1500 masih berjumlah 2 sampai 3 juta orang, tetapi tahun 1984 tinggal 100.000 orang. Mereka tinggal di cekungan Amazona, mereka didesak terus menerus oleh para tuan tanah. Uskup Agung Dom Helder Camara, Uskup Agung Olinda dan Recife dan Uskup Pedro Casaldaliga, Uskup Sao Felix, adalah pahlawan perjuangan untuk mendapatkan kehidupan yang layak bagi yang tertindas.

e. El Salvador
Tahun 1961-1971, banyak tanah dicaplok oleh pemerintah yang berkuasa dari rakyat. Karena membela hak atas tanah bagi rakyat, Pater Rutilio Grande ditembak mati oleh pasukan pembantai yang disewa oleh tuan tanah. Pada tahun 1979, ada 580 pembunuhan terhadap orang sipil. Antara tahun 1979-1983 sudah ada 40.000 orang terbunuh karena alasan politis, termasuk Uskup Agung San Salvador, Oscar Romero.

IV. REFLEKSI TEOLOGIS TEOLOGI PEMBEBASAN
Iman dan Manusia Baru
Gutierrez melakukan refleksi teologi atas faham keselamatan, cinta, dan harapan. Atas dasar hubungan yang erat antara karya pembebasan Israel dari Mesir dengan karya penciptaan, maka dalam pandangan Gutierrez hanya ada satu sejarah. Sejarah manusia adalah sejarah keselamatan, karena Allah pembebas Israel adalah Allah pencipta. Karya penciptaan adalah karya penyelamatan Allah yang pertama. Manusia yang diciptakan Allah sekaligus dipanggil kepada keselamatan. Keselamatan Allah yang historis itu juga terjadi di dunia ini dan bukan hanya pada akhir zaman. Eskhatologi menurut Gutierrez, bukanlah semata-mata akhir dan pemenuhan sejarah. Janji-janji eskhatologi menjadi nyata dalam janji yang terlaksana masa kini, sehingga janji yang terlaksana dalam masa kini merupakan parsial janji eskhatologi. Keselamatan yang diberikan Kristus adalah pembebasan manusia dari dosa hingga manusia masuk dalam kesatuan dengan Allah. Kristus membebaskan manusia dari dosa dan dari segala akibatnya. Pembebasan ini merupakan anugerah. Oleh karena itu, setiap usaha perjuangan pembebasan untuk menciptakan masyarakat adil mempunyai arti keselamatan.
Kehadiran Allah dalam diri manusia mencapai puncak dan kepenuhannya dalam fakta inkarnasi. Dalam kemanusiaan Kristus, Allah menampakkan diri dan terlihat sepenuhnya dalam sejarah manusia. Kristus adalah bait Allah. Kebenaran inilah yang menjadi dasar mengapa Gereja disebut Paulus sebagai bait Allah dan bahwa setiap orang Kristen adalah juga bait Allah (Kor. 3:16-17; 6:19). Arti keselamatan adalah kesatuan dalam cinta kasih antara Allah dan manusia dan antarmanusia sendiri. Dan jalan untuk mencapai keselamatan itu adalah cinta kasih sendiri. Cinta kasih sejati baru sungguh-sungguh nyata kalau ada tindakan konkrit.
Menurut Gutierrez, harapan eksatologi bertolak dan berakar pada praksis masa kini.. Harapan yang dilepaskan dari praksis masa kini akan membuat orang melalaikan masa kini . Harapan sejati justru akan membuat orang berani menghadapi masa kini dengan segala kepahitannya dan bersikap mau mengatasi dan memperbaiki diri. Gutrierrez menyimpulkan bahwa “hidup dan ajaran Yesus menuntut usaha terus menerus membangun manusia baru yang hidup dalam tata masyarakat baru”. Dengan kata lain, “pewartaan Yesus tentang cinta Bapa yang universal tidak boleh tidak melawan segala ketidakadilan, previlese, penindasan ataupun nasionalisme sempit”.

Misi Gereja
Gutierrez mengikuti pandangan Konsili Vatikan II yang melihat gereja dalam relasinya dengan dunia. Gereja tidak berpusat pada dan untuk dirinya sendiri, tetapi berpusat pada dan untuk dunia. Gereja sebagai sakramen keselamatan harus menandakan dan menunjukkan keselamatan itu sendiri. Keselamatan Allah yang telah terpenuhi dalam diri Kristus harus ditandakan dan ditunjukkan oleh struktur dan kehadiran gereja di tengah dunia, namun demikian, bukan berarti bahwa keselematan Allah terbatas hanya pada dan di dalam gereja. Kristus juga hadir di dunia, di luar gereja, sehingga gereja harus mendengarkan dunia dan tidak hanya memberi kesaksian pada dunia. Gereja harus menandakan dan menunjukkan Allah yang hadir dalam aspirasi pembebasan dan perjuangan membangun satu masyarakat yang lebih manusiawi dan adil. Kalau gereja tidak terlibat pada usaha perjuangan melawan penindasan dan perjuangan membangun masyarakat yang adil, maka perayaan ekaristi kehilangan artinya.
Gereja berperanan untuk secara terus menerus mendukung para anggotanya untuk tidak lelah-lelahnya berharap, berjuang untuk pembebasan. Dalam komunitas orang-orang yang menderita, memakai istilah Santa Theresia dari Avila, mereka mengalami ‘keheningan’ akan perjumpaan intim dalam kesenasiban dengan diri sendiri, dengan sesama dan dengan Tuhan yang ikut menderita, tetapi sekaligus saling menghibur.
Yesus Kristus Sang Pembebas
Kaum miskin bukanlah objek kebaikan hati, melainkan pelaku perubahan sosial. Secara alkitabiah kemiskinan telah menjadi skandal bagi harkat kelayakan manusia dan dengan demikian melawan kehendak Allah. Manusia diciptakan menurut citra Allah, untuk menguasai dan mempergunakan bumi seisinya untuk mengangkat harkat kemanusiaannya, dan dengan demikian memuliakan Allah. Kemiskinan bukan nasib yang harus diterima dan dengan sendirinya merupakan kesalehan. Kemiskinan adalah akibat dari struktur “pembangunan” yang tidak adil. Kemiskinan adalah keadaan kurangnya sarana hidup layak bagi kemanusiaan yang mungkin diubah, dapat diubah, dan harus diubah. Gurierrez tidak menyangkal bahwa solidaritas dan identifikasi dengan orang miskin akan membawa orang pada konfrontasi dengan orang yang menindas atau penguasa. Ini berarti, atau dapat berarti keterlibatan dengan perjuangan politik melawan penindasan akan mengambil bentuk perjuangan subversive dalam arti “dari bawah” atau “dari rakyat”. Katanya, “....proses pembebasan menuntut peran serta aktif dari mereka yang tertindas...” Yang mempunyai keputusan efektif adalah mereka yang memegang kekuasaan. Hal ini sekaligus menjawab kritikan dari sebagian teolog Eropa dan Amerika Utara atas “subversivitasnya” teologi pembebasan.
Yesus sebagai Kristus adalah Yesus yang kita imani bukan terutama karena tindakan dan hikmahNya, melainkan karena Ia seorang pribadi. Ia yang membawa kabar gembira kepada orang miskin, dan mewartakan pembebasan bagi mereka yang terbelunggu, yang telah dengan berani menghadapi serangan pinisepuh bangsa dan para wali kekuasaan, Ia yang telah dibunuh sebagai seorang subversier, dan Ia adalah Kristus, Mesias, Yang Diurapi, Sang Putera (Yoh. 20:31; Roma 10:9; Markus 1:1). Yesus sebagai pembebas adalah Tuhan yang menjadi miskin sehabis-habisnya, sampai ke dalam kematian disalib. Yesus sebagai Sang Pembebas berpihak dan mengidentifikasikan diri serta solider dengan mereka yang miskin dan tertindas (Filippi 2:5-11).
Dari kematian Yesus di tangan penguasa politik, Gutierrez menyimpulkan bahwa kematian Yesus pada salib adalah skandal politik. Oleh Pilatus Ia dinobatkan sebagai “Raja Orang Yahudi”, akan tetapi dibangkitkan Bapa, agar Ia menjadi “Tuhan, bagi kemuliaan Allah Bapa”. Dengan kebangkitanNya, kematian Yesus bukan lagi kematian politis yang konyol. Ia bukan korban dari revolusi politik, melainkan Ia mati sebagai korban situasi kedosaan manusia.Yesus mati karena berjuang untuk pembebasan, memerangi akar dari tatanan yang tidak adil. Dengan ini kandaslah tuduhan para kritikus teologi pembebasan bahwa teologi pembebasan telah mempromosikan pembebasan yang eksklusif politik.

V. KESIMPULAN
Berbicara, membaca dan meggumuli teologi pembebasan sangatlah menarik dan benar-benar menyentuh hati nurani dan rasa keberimanan kita, serta membangkitkan solidaritas kesetiakawanan atas kemiskinan dan keterbelengguan. Teologi Pembebasan Amerika Latin adalah wajah kita sendiri, negara, bangsa dan rakyat kita, Indonesia. Ia tak jauh berbeda dari apa yang langsung kita alami, rasakan dan hadapi setiap hari hingga saat ini. Penculikan, penindasan, pembodohan, penipuan, korupsi, kebohongan, pembunuhan dan lain-lainnya yang segambar dengan itu hadir di tengah-tengah kita, dan kita turut hidup di dalamnya. Bila kita memperbincangkan saudara kita yang dibunuh di Amerika Latin pada tahun-tahun silam, maka yang kita perbincangkan adalah saudara kita juga yang dibunuh di Ambon, di Palu, di Bali, yang kita perbincangkan adalah gereja-gereja yang ditutup, jemaat-jemaat yang dihalangi untuk beribadah, TKI yang mencari sesuap nasi ke negara tetangga, wanita-wanita yang menceburkan diri dalam pelacuran, ibu dan anak yang bunuh diri, dan banyak lagi korban akibat kemiskinan dan penderitaan hidup. Tetapi teologi pembebasan tidak berhenti sampai disitu saja. Ia menawarkan suatu pembebasan yang memerdekakan dan pembebasan itu tetap berakar pada Kristus Yesus, yang telah terlebih dahulu mengalami secara nyata dari semua penindasan dan kesakitan. Kristus yang adalah Sang Pembebas adalah Kristus yang solider dan hadir bersama-sama dengan kita untuk “memerangi” segala penindasan dan dosa. Pengharapan dalam teologi pembebasan adalah pengharapan yang bersumber pada Yesus, dan pengharapan itu bersifat presentis dan juga futuris. Bahwa pembebasan itu berlaku pada masa kini dan masa depan. Secara nyata di dunia, pembebasan dapat langsung dirasakan dan dialami, juga pada masa eskhatologi, masa janji Allah dipenuhi pada waktu nanti, pembebasan diperoleh orang yang hidup dalam Kristus.

Bahan Bacaan:
1. Wahono Nitiprawiro, Fr.,“Teologi Pembebasan, Sejarah, Metode, Praksis, dan Isinya”, LkiS, Yogyakarta.
2. Suryawasita, A., S. J., “Teologi Pembebasan Gustavo Gutierrez”, Jendela Grafika Yogyakarta, Cetakan I, 2001.
3. Banawiratma, J. B., “Kebudayaan Jawa dan Teologi Pembebasan”, dalam Struggling in Hope, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1999.
4. Sumartana, Th., “Teologi Pembebasan Kepalan Tangan Sang Uskup”, Prisma, No.9, September 1982.
5. Tommy D. G. Binti, dalam mata kuliah “Teologi Pengharapan dalam Kitab Wahyu”, Kamis, tanggal 17 April 2008.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar