SELAMAT BERGABUNG DENGAN BLOG KAMI, SEMOGA BERMANFAAT DAN KIRANYA TUHAN DIPERMULIAKAN ATAS SEGALANYA.

Rabu, 14 Juli 2010

MEMBANGUN JEMAAT MISIONER

MEMBANGUN JEMAAT MISIONER
DALAM KONTEKS MASYARAKAT KOTA (BANDUNG)

“Usahakanlah damai sejahtera kota ke mana kamu Aku buang,
Dan berdoalah untuk kota itu kepada Tuhan, sebab kesejahteraannya
adalah kesejahteraanmu juga”.
Yeremia 29:7

PENDAHULUAN
Satu hal mengusik hati saya ketika harus membuat makalah ini, dan ini juga menjadi bagian pergumulan saya sebagai seorang pendeta di gereja- yang katakanlah-tradisional (gereja suku), meskipun sesungguhnya Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) bukanlah gereja suku, yaitu apa yang disebut aliran karismatik, atau sering pula disebut aliran pentakosta baru, yang sedang melanda masyarakat kristiani di kota-kota besar, terutama Bandung. Mengapa ribuan orang mengikuti gerakan baru ini? Mengapa bila diadakan ‘kebangunan rohani’ orang tertarik mengikutinya? Sedangkan bila diadakan ‘evangelisasi’ di gereja tempat saya melayani tak banyak yang hadir atau yang datang itu-itu saja? Tak dapat kita pungkiri, bahwa aliran baru ini dalam satu sisi ‘merugikan’ bagi gereja-gereja yang sifatnya ‘kedaerahan’ tadi, sebab banyak dari anggota gereja tersebut yang ikut atau katakanlah ikut-ikutan didalamnya. Apakah saya yang kurang misioner, sehingga jemaat saya ‘pergi’ meninggalkan gerejanya? Atau sebaliknya, apakah gereja karismatik yang lebih misioner?
Bila kita mengangkat persoalan ini, bukanlah melulu mau menyalahkan gerakan karismatik. Terlebih dahulu kitalah yang harus mengoreksi diri sendiri, sejauh manakah kita mempersiapkan jemaat dari gereja kita masing-masing sehingga dapat menjadi jemaat yang misioner, jemaat yang tidak terpengaruh dengan berbagai-bagai aliran, yang mencintai gerejanya dan bahkan dapat ber-‘misi’ ke ‘luar’.


I. TERMINOLOGI DAN DEFINISI MISI
Istilah misi berasal dari bahasa Latin “missio”, yang artinya mengirim atau mengutus. Disini, yang dikirim diutus dengan otoritas dari yang mengirim, untuk tujuan khusus yang akan dicapai. Tekanan penting dari ‘misi atau pengutusan Allah’ berbicara tentang Allah sebagai pengutus, dimana Ia adalah sumber, inisiator, dinamisator, pelaksana, dan penggenap misi-Nya. Misi terfokus kepada aktivitas penyelamatan dari Allah yang secara dinamis menyelamatkan manusia (berdosa) di seluruh dunia yang sekaligus menghadirkan kerajaan Allah. David J. Bosch dalam bukunya “Transformasi Misi Kristen” menyebutkan, ‘misi’ menunjuk pada: (1) pengiriman misionaris ke daerah tertentu, (2) kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh misionaris-misionaris tersebut, (3) wilayah geografis di mana para misionaris tersebut bekerja, (4) dunia non-Kristen atau “lapangan misi”. Bila kita mengusahakan sinopsis teologis yang lebih ‘khas’ tentang misi sebagai konsep yang telah dipergunakan secara tradisional, kita mencatat bahwa kata ini telah diartikan sebagai (1) penyebaran iman, (b) perluasan pemerintahan Allah, (3) pertobatan orang-orang kafir, dan (4) pendirian jemaat-jemaat baru. Dengan demikian dapat ditegaskan, bahwa misi berpusat dari Allah (missio Dei) untuk membawa rahmat shalom bagi manusia dan segenap ciptaan-Nya.

Alkitab sebagai Landasan Misi
1. Misi dalam Perjanjian Lama
Misi dalam Perjanjian Lama adalah universalisme, eskhatologia, dan masa depan mesianis. Universalisme, dapat dilihat dalam misi pemanggilan Abraham (Kej.12) untuk ‘pergi dari sanak saudaranya’ meninggalkan dunia orang kafir, dan ia akan menjadi berkat (Kej. 12:2) bagi kaum/bangsa di muka bumi. Keselamatan Israel bergantung dari ketaatan kepada pemanggilan dan pemilihan oleh Allah. Keselamatan bangsa-bangsa juga bergantung dari sikap mereka terhadap Israel (Abraham) “Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau”. (Kej.12:3). Universalisme keselamatan diuraikan juga dalam Kitab Rut, Yunus, dan Deutro-Jesaya. Eskhatologia dapat dilihat pada janji (Yeh. 39:27-28) dan hukuman (Yeh.39:23) Allah kepada bangsa Israel maupun kepada bangsa-bangsa yang kafir. Hukuman dan janji kepada bangsa Israel akan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain. Eskhatologia dalam Perjanjian Lama digambarkan dengan bangsa-bangsa akan datang ber-arak-arakan ke Sion. Kedatangan itu merupakan gerakan yang sentripekal (pusaran) menuju ke pusat dimana ada Yahwe dan keselamatan. Masa depan mesianis, adalah pengharapan bangsa Israel akan masa depan, dimana Mesias dijanjikan akan datang untuk membawa keselamatan. Pengharapan itu berpusat pada Daud dan keturunannya (Zakaria 9:9; Anak manusia (Daniel 7:13-14); dan hamba Tuhan yang menderita (Yes.40:55).

2. Misi dalam Perjanjian Baru
Dari awal sampai akhir, menunjukkan bahwa Perjanjian baru adalah buku tentang misi. Isinya berkaitan erat dengan pekerjaan misioner dari Gereja Mula-mula. Surat-surat Perjanjian baru berisikan apologetika misioner yang merupakan perlengkapan pekerjaan misi, yaitu:

* Mandat Misioner dalam Injil Markus
Pada bagian akhir Injil ini terdapat mandat misioner yang eksplisit. “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum”. (Mrk. 16:15-16). Tawaran Injil disini bukan hanya “take it or leave it”, melainkan mengandung keselamatan atau kutukan.
* Mandat Misioner dalam Injil Matius
Matius 28:19-20:”Karena itu pergilah, jadikanlah...Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”.. “Pergilah” mengingatkan kita untuk melintasi batas-batas sosial, budaya dan geografis. Yesus mempunyai segala kuasa dan memberikan mandat itu, juga berjanji menyertai senantiasa. Kristus akan hadir diantara mereka dengan cara baru.
* Mandat Misioner dalam Injil Lukas dan Kisah Para Rasul
Lukas 24:46-47:”Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan lagi: dalam namaNya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari yerusalem”.
Kis. 1:6-8:” .......Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi”. Misi disini ‘sampai ke ujung bumi’, tak ada yang terkecuali dan murid-murid harus memberitakan bahwa penderitaan, kematian dan kebangkitan Yesus sebagai saksi bukan hanya sebagai perantara melainkan adalah tindakan misioner Allah.

* Mandat Misioner dalam Injil Yohanes
Yohanes bukan saja memusatkan panggilan misi di sekitar pribadi dan pekerjaan Yesus, tetapi di sekitar Allah sendiri yang mengutus Yesus (Yoh. 13:20). Dan mereka yang percaya kepada-Nya dikumpulkan menjadi ‘satu kawanan’ (Yoh.10:16; 12:32; 17:1-26) serta menjadi anak-anak Allah (Yoh. 1:12), lalu menyatakan mandat Allah dengan jelas (20:21), kemudian memperlengkapi mereka dengan Roh Kudus (20:22).

* Misi Paulus
1 Kor. 1:17; Gal.2:7; 1 Kor. 9:16; Rm. 1:14-15; Rm. 10:1; Gal. 1:15-16; 2:7-8; Rm. 1:5); Rm.1:8-15; Kis.16:16; Kis.22:3.

II. JEMAAT YANG MISIONER
Pengertian Jemaat Misioner
* Jemaat mula-mula disebutkan dalam Kisah Para Rasul 2:41-47:” Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa...tetap bersatu...kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama...bertekun...berkumpul tiap-tiap hari dalam bait Allah...dan mereka disukai semua orang...tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan”.

Bila kita melihat isi pasal 2:41-47 dari Kisah Para Rasul ini, jelas dikatakan bahwa, setelah Para Rasul dipenuhi oleh Roh Kudus, mereka mempunyai ‘kekuatan’ untuk mengabarkan Berita Keselamatan dan untuk ‘menjala’ manusia, baik melalui khotbah maupun penyembuhan. Dan orang-orang yang mendengarkan mereka memberi diri dibaptis dan mereka disukai semua orang dan Tuhan menambahkan jumlah mereka. Terlepas dari metode dan konsep-konsep bermisi dari ahli-ahli teologi, berdasarkan Kisah Para rasul 2:41-47, ciri-ciri jemaat yang misioner adalah:
1. Menerima Injil dan memberi diri dibaptis
2. Hidup bersama dalam kebersatuan
3. Bertekun dan rajin dalam pelayanan
4. Mereka disukai karena hidupnya yang benar
5. Tuhan sendiri yang menambah jumlah mereka.

Dengan cara sederhana tujuan misi dapat kita simpulkan adalah, memberitakan Injil Keselamatan/Kerajaan Allah/Shalom, sehingga orang mau menerima dan hidup di dalamnya serta mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Oleh ahli-ahli teologi kemudian isi Kisah Para Rasul dimaknai sedemikian rupa, sehingga pengertiannya menjadi berkembang dalam bentuk-bentuk konsep dan metode dalam bermisi dan berteologi, sehingga gereja sebagai tubuh Kristus telah mengalami perkembangan pemahaman dalam melaksanakan misi. Rollan Allen sebagai orang pertama yang mengingatkan akan pentingnya peranan jemaat dalam bermisi. Ia mengambil dasar dari pelayanan Paulus yang selalu menempatkan jemaat hasil Pekabaran Injilnya sebagai jemaat yang berperan aktif dalam melayani Firman dan Sakramen.

III. BERMISI DALAM MASYARAKAT KOTA
Sejarah menunjukkan, bahwa manusia berubah dan berkembang, dari masyarakat desa ke kota, dari masyarakat agraris ke industri dan teknologis, dari monotheis ke pluralis, sehingga perkembangan itu juga membawa dampak dalam cara dan metode bermisi. Untuk dapat melayani masyarakat kota/industri (kita tidak menyebutkan nama kota secara khusus, tapi kota secara umum), kita harus mempelajari karakteristik atau ciri-ciri masyarakat itu. Pertama, masyarakat perkotaan membutuhkan pelayanan yang lebih berdaya guna. Mereka lebih menyukai pengkhotbah populer, yang dirasakan mampu memberikan khotbah yang menyegarkan, gamblang dan mudah dimengerti, tidak suka pada yang rumit-rumit. Ini yang menarik jemaat-jemaat untuk ‘pindah’ ke aliran karismatik, terutama kaum muda dan mahasiswa. Kita juga melihat, bahwa kampus-kampus didominasi oleh kelompok-kelompok Kristen yang tidak mempunyai ikatan struktural dengan gereja.
Kedua, hidup di perkotaan berada di dalam suasana persaingan yang amat ketat. Persaingan yang ketat membuat kehidupan makin serius dan tegang. Orang membutuhkan sokongan, simpati dan penyegaran. Agama masih diperlukan walaupun tidak didorong oleh motivasi religius. Agama lebih ditekankan pada fungsi memberi kedamaian hati, mampu memberikan rasa aman. Sementara masalah etika- bagaimana sikap terhadap ketidakadilan dan dosa-dosa sosial (penyelewengan dan korupsi) – tidak dijadikan keprihatinan lagi.
Ketiga, masyarakat kota terbuka terhadap perubahan. Sesuatu yang baru segera diserbu orang, seolah-olah yang baru itu pasti menarik. Demikian pula dengan jemaat, bila mendengarkan khotbah, mereka cenderung mengamati apakah ada yang baru atau tidak. Gereja yang tidak tanggap dengan situasi ini akan kehilangan minat dari anggotanya.
Keempat, walaupun teknologi merupakan ciri utama masyarakat industri, bukan berarti orang tidak membutuhkan persekutuan, justru persekutuan makin diperlukan, tetapi coraknya berbeda. Artinya, orang cenderung mencari persekutuan menurut kebutuhannya, bukan sesuatu yang ditentukan oleh ikatan lama. Selain itu perlu perhatian serius terhadap kaum buruh, sebab merekalah yang paling menderita di dalam proses industrialisasi. Semakin banyak industri semakin banyak pula warga gereja yang menjadi buruh. Pelayanan kita adalah pelayanan yang memberdayakan mereka sehingga sanggup meningkatkan kualitas kehidupannya.
Kelima, godaan terbesar yang dialami oleh gereja adalah terkooptasi dan lebih memihak kepada mereka yang berkuasa dan punya harta. Jika ini yang terjadi, ‘pelayanan’pun terkonsentrasi pada kaum berkuasa, berjasa dan kaya. Akibatnya gereja lebih banyak mempersiapkan pelayanan untuk sebagian kecil orang dan memberi perhatian sangat sedikit kepada banyak orang. Kalau seorang kaya misalnya pindah jemaat maka jemaat ‘berkabung’ amat dalam. Ini sama sekali tidak berarti bahwa gereja dapat mengabaikan pelayanan kepada orang kaya dan berkuasa, tetapi gereja terpanggil untuk mengusahakan kesejahteraan bagi semua anggota jemaat.



Masyarakat Kota Bandung
Bandung adalah sebuah kota yang indah, geografisnya elok dan berbukit-bukit, udaranya sejuk dan agak lembab, disebut sebagai kota kembang, kota pelajar (setelah Yogya), kota budaya dan kota wisata. Dari penamaan yang diberikan, dapat kita simpulkan, bahwa Bandung adalah sebuah kota yang menjadi salah satu tujuan orang datang mengunjunginya. Dari empat juta jiwa lebih penduduk Bandung, 98,3 % nya adalah beragama Islam; selebihnya Kristen, Katholik, Hindu, dan Budha. Penduduknya mayoritas suku Sunda, dan selebihnya adalah pendatang dari hampir sebagian besar suku yang ada di Indonesia. Perekonomian sebagian besar bersumber dari sektor jasa (pariwisata, budaya, pendidikan dan pangan), barang-barang industri (tekstil, sepatu dan electronic), sedikit tambang, pertanian, peternakan dan perkebunan. Satu hal yang tidak masuk catatan resmi, tetapi nyata di masyarakat adalah jasa ‘membungakan’ uang. Tingkat sosial ekonomi masyarakat tidak merata, sebagian adalah pelajar, mahasiswa, pegawai negeri/swasta dan pejabat pemerintahan/ABRI, sebagian lagi pedagang dan rakyat kecil yang hidup dari mengemis dan pedagang asongan serta buruh.
Meskipun mayoritas penduduk memeluk agama Islam, namun kegiatan beribadah dan berkebaktian, khususnya untuk kota Bandung aman, namun adakalanya juga mendapat gangguan, kecuali daerah-daerah tingkat Kabupaten, seperti Lembang, Subang dan Sumedang yang jelas-jelas mendapat ancaman, hingga beberapa gereja ditutup, baik dari gereja Kristen Protestan maupun Katholik. Yang nyata kami alami adalah, salah satu cabang HKBP di Lembang dipaksa tutup oleh Front Pembela Islam (Januari 2006, setengah tahun setelah saya ditugaskan di Banjarmasin). Gereja-gereja yang ada di Bandung adalah: Gereja Pasundan, Katholik, GKI, HKBP (ada 6), GKJ, GKII, GBI, GBKP, GKDI dan lainnya.

Bagaimana Sebaiknya?
David J. Bosch mengatakan, bahwa gereja yang bermisi di tengah-tengah masyarakat modern yang oikumenis pluralis dan sekularis mempunyai unsur-unsur paradigma berikut: (1) misi sebagai gereja dengan yang lainnya, (2) misi sebagai Missio Dei, (3) misi sebagai perantara keselamatan, (4) misi sebagai perjuangan demi keadilan, (5) misi sebagai penginjilan, (6) misi sebagai kontekstualisasi, (7) misi sebagai pembebasan, (8) misi sebagai inkulturasi, (9) misi sebagai kesaksian bersama, (10) misi sebagai pelayanan oleh seluruh umat Allah, (11) misi sebagai kesaksian kepada orang-orang berkepercayaan lain, (12) misi sebagai teologi, dan (13) misi sebagai aksi dalam pengharapan.
(1)Misi sebagai gereja dengan yang lainnya, dapat dilakukan dengan:
* Membentuk panitia KKR bersama dengan transparansi keuangan yang dapat dipertanggungjawabkan.
* Gereja karismatik tidak menerima keanggotaan dari gereja yang se kota menjadi anggotanya. Misalnya, jemaat HKBP mau pindah ke gereja karismatik, harus lebih dahulu mendapat persetujuan dari gereja HKBP, karena banyak kasus anggota gereja yang ‘kedaerahan’ pindah ke karismatik tanpa sepengetahuan gereja asalnya.
(2 dan 3) Misi sebagai Missio Dei dan Perantara Keselamatan
Gereja ada karena ada misi, bukan sebaliknya. Dengan kasih karunia Allah, gereja dapat melahirkan sebuah dunia yang lebih manusiawi. Pelayanan kepada masyarakat pinggiran yang miskin, buruh, petani, sopir angkot dan kernet diintensifkan.
(4) Misi sebagai Perjuangan Keadilan
Gereja memberikan pendampingan sosial kepada kaum buruh, rakyat perkotaan yang miskin dan pengangguran. Banyak warga yang hidup dan tinggal di daerah-daerah pembebasan. Sewaktu-waktu Pemda menggusur mereka, maka gereja memberikan perlindungan. Misalnya, ketika banjir melanda daerah Kiara Condong, Pemda mengungsikan warga disekitarnya, maka gereja menjadi tempat penampungan sementara warga yang rumahnya tergenang banjir.
(5) Misi sebagai Penginjilan
Salah satu misi gereja adalah penginjilan, agar bertambah-tambah umat yang menerima Kristus dan mau dibaptis dalam nama Yesus. Yang perlu diperhatikan adalah pelaksanaannya, agar tidak disebut kristenisasi. Bagi saya, kristenisasi tidak salah, memang itu tujuan gereja sebagai pengemban misi penginjilan. Hanya saja bukan kwantitas gereja yang bertambah menjadi sasaran utama, tetapi lebih kepada peningkatan kwalitas keberimanan jemaat. Kita bekerja, tetapi Tuhan yang menambahkan (jemaat mula-mula).
(6) Misi sebagai Kontekstualisasi
Ibadah dipertahankan dalam bahasa daerah dan Indonesia. Kaum muda memang tidak lagi ‘fun’ dengan bahasa daerah, tetapi kaum tua (orangtua dan yang lebih tua) masih tetap mempertahankan kebaktian berbahasa daerah, baik bahasa batak untuk HKBP, bahasa Jawa untuk GKJ (Gereja Kristen Jawa), dan bahasa Sunda untuk gereja Pasundan.
(7) Misi sebagai Pembebasan
Romo Mangun dapat menjadi contoh nyata untuk praksis misi pembebasan di Indonesia. Gereja juga demikian, dengan menyekolahkan anak asuh sampai ke tingkat universitas atau, memberikan beasiswa secara berkala bagi mahasiswa kurang mampu sampai ia tamat. Gereja juga dapat menjadi sarana penyaluran tenaga kerja, karena di komisi pemuda/remaja masih banyak yang membutuhkan pekerjaan, dapat dilakukan kerjasama dengan para pengusaha anggota gereja.
(8) Misi sebagai Inkulturasi hampir sama dengan no. (6).
(9 dan 10) Misi sebagai Kesaksian Bersama dan Pelayanan oleh Seluruh Umat Allah
Dorongan untuk melakukan kesaksian bersama akan melahirkan suatu kesaksian bersama-sama yang kelihatan. KKR bersama dapat menjadi contoh. Di jemaat sendiri, persekutuan-persekutuan antar komisi atau antar lingkungan juga dapat melahirkan suatu kesaksian bersama. Ada diskusi terbuka dan penelaahan Alkitab yang rutin diadakan. Untuk itu, seorang pemimpin gereja, Pastor atau Pendeta hendaklah yang berhikmat, yang bersama seluruh umat Allah, karena semua telah menerima Roh Kudus, memimpin gereja di dalam kebenaran Allah.
(11) Misi sebagai Kesaksian kepada Orang-orang Berkepercayaan Lain
Gereja di tengah pluralisme agama harus menjaga keutuhan di dalam gereja, antar jemaat, dan hidup tidak bercacat, agar dapat di lihat orang dan akhirnya disukai orang (seperti di jemaat mula-mula). Percekcokan HKBP secara umum tidak menjadikan HKBP pecah, yang cekcok tetap ingin jadi HKBP, tapi sudah tidak menjadi ‘disukai’ orang lain. Kalau sudah tidak disukai (mungkin) Tuhan tidak akan menambahkan jumlahnya (?)
(12 dan 13) Misi sebagai teologi dan Aksi di dalam Pengharapan
Menghubungkan peristiwaYesus yang selalu relevan dari dua puluh abad lalu dengan masa depan dari pemerintahan Allah yang dijanjikan demi inisiatif-inisiatif yang bermakna di masa kini adalah misiologi Kristen dan gereja yang tercermin dalam eskhatologi di dalam tiga zaman, masa lalu, masa kini dan masa depan.

IV. REFLEKSI DAN PENUTUP
Saya tidak dapat memberikan kesimpulan dalam tulisan ini, saya lebih memilih kata penutup, sebab membangun jemaat misioner dalam masyarakat perkotaan masih sangat banyak yang harus kita pergumulkan, masih terbuka ruang untuk berdiskusi. Dalam memimpin jemaat, menurut saya tidak ada yang sempurna, yang sempurna hanyalah Tuhan Yesus Kristus yang telah memberi kesempatan dan anugerah kepada semua pemimpin-pemimpin gereja dalam menggembalakan umatNya. Seorang pemimpin jemaat bukan saja memimpin dalam arti duniawi, kelembagaan atau organisasi, tetapi lebih daripada itu, yaitu sebagai ‘pemimpin rohani’. Dalam melaksanakan pelayanan, saya selalu mengingat perkataan Tuhan ini:
Yehezkiel 33:8-9:” Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Hai orang jahat, engkau pasti mati! – dan engkau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu supaya bertobat dari hidupnya, orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu. Tetapi jikalau engkau memperingatkan orang jahat itu supaya ia bertobat dari hidupnya, tetapi ia tidak mau bertobat, ia akan mati dalam kesalahannya, tetapi engkau telah menyelamatkan nyawamu”.

Peranan keluarga juga dapat mempengaruhi pelayanan di tengah-tengah jemaat. Biasanya, suami/istri dan anak-anak pemimpin jemaat mendapat ‘sorotan’ dari warga jemaatnya. Sangat menarik membaca tulisan Evang Darmaputera, istri dari Bapak Pdt Eka Darmaputera . Ia berusaha menjadi istri teladan dan sempurna di mata jemaat, tetapi usahanya untuk menjadi “super woman” gagal, ia malah jatuh sakit dan hampir dua bulan sekali ibu Evang sakit.
Adalah hal yang paling penting untuk melihat bahwa misi itu adalah tetap misiNya, agar kita tidak terjebak dalam pemikiran bahwa pekerjaan misi ini sebagai suatu pekerjaan yang baik dan berusaha untuk membenarkan diri kita dengan pekerjaan-pekerjaan kita.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar