SELAMAT BERGABUNG DENGAN BLOG KAMI, SEMOGA BERMANFAAT DAN KIRANYA TUHAN DIPERMULIAKAN ATAS SEGALANYA.

Rabu, 14 Juli 2010

ALIRAN ESSENE

ALIRAN ESSENE
DAN
RELEVANSINYA KE MASA SEKARANG

I. PENDAHULUAN
Aliran/Sekte Essene adalah salah satu aliran yang ‘sempat’ berkembang bersamaan dengan kelompok imam-imam, kaum Hazidim dan kaum Makabe pada masa pemerintahan penguasa Yunani Antiokhus IV Efipanes (175-164 sM). Pada masa itu Antiokhus memaksakan Helenisme pada bangsa Yahudi, yaitu suatu pemerintahan yang mengangkat kebudayaan jauh lebih tinggi daripada agama. Perlengkapan Bait Suci dirampas, gedung Bait Suci dinajiskan , kultus Yahudi dihapuskan, dan orang Yahudi diwajibkan mempersembahkan korban kepada ilah-ilah negara. Berkembangnya kelompok ini adalah tanda perlawanan kepada pemerintahan Antiokhus, karena mereka bangsa yang taat beragama dan rajin menjalankan ritus-ritus keagamaannya. Kaum Hazidim tegas menolak Helenisme, mereka menuntut agar Undang-undang yang menjamin kebebasan beribadat ditegakkan kembali. Kaum Makabe lebih radikal lagi, mereka menuntut kemerdekaan mutlak untuk bangsa Israel.
Dikatakan ‘sempat’ berkembang, karena dibandingkan dengan kelompok Hazidim atau yang kemudian disebut berubah menjadi kaum Farisi dan kelompok Makabe atau yang berubah menjadi kaum Sadusi, kelompok Essena tidaklah sebesar kaum Hazidim dan Makabe. Nama mereka tidak disebut dalam Alkitab Perjanjian Baru. Sebagian mengatakan, bahwa kelompok Essene adalah pecahan dari kaum Hasidim setelah Bait Suci diresmikan kembali dan setelah seorang Imam Agung yang sah bernama Alkimus ditetapkan. Pecahan kaum Hasidim tersebut mengundurkan diri dari perjuangan karena mereka tidak setuju dengan cita-cita nasionalis kaum Makabe.

II. KEBERADAAN KAUM ESSENE
1. Tentang Kaum Essene
Seperti telah disebutkan di atas, kelompok Essena tidak disebutkan dalam Alkitab Perjanjian Baru. Orang-orang Essene dilukiskan oleh Josephus, Philo dan Pliny the Elder. Mereka adalah suatu kelompok masyarakat biarawan, melakukan celibasi (tidak kawin) dan hidup bersama. Mereka mengundurkan diri ke dalam wilayah padang gurun di sekitar Laut Mati, dan mendirikan semacam biara dengan ciri-ciri khas tertentu. Jumlah mereka sekitar 4.000 orang.
Nama Essene bila dihubungkan dengan sebuah kata Aram berarti ‘saleh’ atau ‘penyembuh’. Sampai pada tahun 70 M mereka aktif dalam masyarakat Yahudi. Pekerjaan mereka disamping biarawan adalah sebagai petani dan tukang, dan sedapat mungkin mereka menghindari kota, sebab menganggap kota sebagai pusat perbuatan-perbuatan tercela. Golongan Essene tidak mengenal perbudakan dan pantang mengucapkan sumpah. Mereka biasa berpakaian putih dan sangat memperhatikan upacara-upacara penyucian. Mereka mau memberikan persembahan barang ke Bait Allah, tetapi menolak untuk mempersembahkan korban hewan. Hari Sabat mereka hormati dengan ketat, sedemikian ketatnya, sampai mereka tidak mencuci piring-piringnya pada hari itu. Segala milik adalah untuk bersama, sedangkan kemewahan dan milik
pribadi mereka tolak. Untuk dapat masuk golongan ini telah ada peraturan-peraturannya tentang masa percobaan dan upacara-upacara penerimaan.

2. Qumran dan Pengharapan kaum Essene
Tulisan-tulisan mengenai kaum Essene berasal dari perpustakaan Qumran. Di Qumran, dekat pantai timur laut, Laut Mati terdapat peninggalan tempat biarawan yang telah dibinasakan oleh pemerintah Roma, yang didirikan sekitar tahun 150 sM., dan yang ditempati sampai perang tahun 66-70 M. Tempat ini mungkin dapat disamakan dengan orang-orang Essene yang disebut oleh Pliny yang berada di sebelah timur Engedi. Orang-orang Essene memilih tempat ini untuk memenuhi Jesaya 40:3: ”Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk Tuhan”. Masyarakat itu mempersiapkan jalan bagi Tuhan dengan mempelajari Hukum Taurat Musa. Mereka membangun paguyuban-paguyuban tersendiri di daerah gurun dan di sana mereka menanti-nantikan saat Allah bertindak mewujudkan Kerajaan-Nya di bumi. Mereka mengharapkan dua Messias, satu: Messias Imam dan satu lagi Messias Raja.
Dari berbagai tulisan yang terdapat pada gulungan-gulungan yang ditemukan di Qumran tersebut, disebutkan, bahwa salah satu dari gulungan itu adalah salinan dari Jesaya, yang ditulis sekitar tahun 150 sM. Gulungan-gulungan lain berisikan “Manual of Discipline” atau “Buku Aturan” masyarakat tersebut. Oleh War Scroll, buku aturan itu berisikan gambaran Eskhatologi “Peperangan Anak-anak Terang melawan Anak-anak Gelap”. Juga terdapat mengenai tafsiran Habakuk yang mencoba menunjukkan bagaimana nubuat akan datangnya Messias digenapi. Di dalam tulisan itu juga sering disebutkan adanya “Guru Kebenaran”, yang menjadi pelopor gerakan kaum Essene.
Ada penulis yang beranggapan bahwa Yohanes Pembaptis mungkin adalah salah seorang dari kalangan Essene ini, karena ia bekerja di padang gurun Yudea tempat terdapat satu biara yang penting dari kaum Essene. Sedangkan para penulis yang lain beranggapan bahwa mungkin sekali Yesus adalah salah seorang pendukung atau simpatisan terhadap kegiatan-kegiatan kaum Essene, karena Yesus ternyata tidak pernah melontarkan satupun kecaman terhadap mereka. Yang jelas pandangan Yesus tentang Kerajaan Allah hampir sama dengan pandangan kelompok ini. Yesus melihat Kerajaan Allah sebagai suatu pemberian Allah dan bukan sebagai sesuatu hal yang harus diperjuangkan oleh manusia. Akan tetapi jika kita memperhatikan sikap Yesus sehari-hari, akan terlihat perbedaanNya dengan orang-orang Essene. Yesus ternyata mengasihi baik kaum laki-laki maupun kaum perempuan, menaruh perhatian dan keprihatinan yang besar terhadap orang-orang berdosa dan orang-orang sengsara, senang bergaul dengan orang banyak dalam suasana kekeluargaan, dan selalu makan bersama-sama dengan muruid-muridNya maupun dengan orang-orang lain. Sikap-sikap seperti itu bukanlah sikap yang dianut oleh kaum Essene, yang senang hidup bertarak (beraskese) dan mengasingkan diri.
Memang sukar untuk mengatakan bagaimana sikap Tuhan Yesus terhadap sekte ini. Hanya disimpulkan mungkin sekali Yesus pernah berhubungan dengan mereka. Ini disebabkan karena sikap memencilkan diri dari kehidupan ramai yang begitu kuat, sehingga para penulis Kitab-Kitab Injil tidak mengetahui apakah Yesus pernah bertemu dengan mereka atau tidak. Lain halnya dengan kaum Parisi dan Saduki yang jelas-jelas disebutkan dalam Alkitab dan bertolak belakang dengan Yesus.
Akan halnya pengharapan orang-orang Essene yang menanti-nantikan Kerajaan Allah, mereka percaya bahwa Kerajaan Allah tidak didirikan di dalam dunia ini menurut pengertian-pengertian politik. Mereka melihat bahwa
orang-orang yang gencar berbicara tentang Kerajaan Allah secara politis itu lalu berubah dan berusaha merebut kekuasaan bagi dirinya sendiri. Hanya Allah sendiri sajalah yang dapat mendirikan pemerintahan-Nya di bumi ini, dan dalam rangka itu semua orang percaya harus memelihara kesucian mereka sendiri dan menjaga agar tidak bergaul dengan orang-orang duniawi. Sebagian penulis mengatakan paham kaum Essene ini adalah apokaliptis dan anti Hellenis. Paham Apokaliptis (berasal dari kata Yunani, “pembukaan selubung/penyataan’) menganut hal-hal sebagai berikut:
1. Manusia harus menantikan Allah sendiri bertindak, sebab hanya Allah sendirilah yang akan melakukan segala sesuatu yang dikendaki-Nya tanpa pertolongan manusia.
2. Pada saat pemerintahan Allah itu menjadi nyata, akan ada penghakiman dimana orang jahat akan dihukum dan orang-orang benar akan diberkati.
3. Akan ada suatu kehidupan yang baru bagi orang-orang yang mati dalam ketaatan kepada Allah. Orang-orang benar akan bangkit serta memiliki kehidupan baru dalam Kerajaan Allah.
Contoh dari tulisan-tulisan apokaliptik dalam Alkitab Perjanjian Lama adalah: Yesaya 24-27; Zakharia 9-14; dan Daniel 7-12. Dalam Perjanjian Baru dapat kita temukan dalam kitab Wahyu.

III. RELEVANSI MASA SEKARANG
Pada saat Allah memberitahukan melalui nabi Yesaya agar Israel bersiap-siap menyongsong penyelamatan-Nya yang membebaskan Israel dari pembuangan (Yesaya 40:1-11), demikian pula gambaran yang ditunjukkan kepada Israel pada zaman Yohanes Pembaptis sebagai suara yang berseru-
seru, sebagai perintis jalan yang menunjukkan pembebasan yang akan datang di dalam diri Yesus. Ada suara yang berseru-seru di padang gurun, Mat.3:3: ”Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagiNya”.
Menurut kaum Essene pada waktu itu, persiapan itu dilakukan dengan hukum Taurat dan menjalankan syariat secara harafiah. Hal-hal seperti inilah yang mereka maksudkan sebagai persiapan menyongsong kedatangan Tuhan yang eskhatologis. Maka kelompok Essene pergi mengasingkan diri dari
kelompok ahli-ahli Taurat umumnya dan mereka mengasingkan diri di daerah Qumran. Mereka merupakan kelompok kecil yang menjauhi dunia, menjadi semacam kelompok doa yang eksklusif (tertutup) pada zamannya. Mereka alergi terhadap interaksi sosial di tengah-tengah masyarakat. Mereka dapat dikatakan menganut tendensi kebangunan rohani yang menyepelekan dunia dari kehidupan sehari-hari, alergi terhadap unsur-unsur dunia sebagai realitas yang dihadapi. Kecenderungan kebangunan rohani semacam ini terasa kaku bila dikaitkan dengan pembangunan bangsa karena tidak dapat diharapkan berpartisipasi dalam pembangunan manusia seutuhnya, sementara secara teologis ia sendiri sudah berat sebelah, yaitu mempolarisasikan yang rohani dengan yang jasmani (sikap dualistis).
Persiapan yang dimaksudkan Nabi Yesaya dan Yohanes Pembaptis bukanlah semacam persiapan mabuk rohani yang hanya mementingkan keselamatan jiwa-jiwa manusia semata. Persiapan mabuk rohani seperti kaum Essene pada waktu itu mengakibatkan polarisasi hidup kerohanian yang tidak siap secara etis terhadap pembangunan masyarakat. Sikap seperti itu selalu menimbulkan sikap fanatisme, sempit, dan tidak siap secara etis menangani masalah-masalah konkret seperti keadilan, hak asasi manusia, kesenjangan sosial, korupsi, kolusi, kemiskinan, dan lingkungan hidup di tengah-tengah manusia. Persiapan yang dimaksud bukan pula dengan intelektualisme agama atau pengetahuan kognitif yang mendalam tentang hukum Taurat, juga bukan dengan bentuk-bentuk ritualisme, bentuk ibadah ritual yang bersifat otomatis.
Sejalan dengan berita Injil, kedatangan Allah yang eskhatologis berkaitan dengan kedatangan-Nya di dalam diri Yesus yang dinamai Immanuel. Kebenaran inilah yang asing bagi orang Farisi yang kuat secara legalitas menganggap syariat-syariat agama perlu dijalankan secara lebih sebagai jaminan masuk Kerajaan Allah (sorga) dan Saduki atau kelompok imam yang menekankan ritualisme (bentuk-bentuk ibadah tertentu) sebagai jaminan masuk sorga dalam menyongsong Messias. Persiapan mereka lain sehingga waktu mereka diperhadapkan kepada Yesus, mereka kecewa. Mereka menolak Yesus karena tidak sesuai dengan aspirasi mereka. Tidak disebutkan dengan jelas bagaimana akhir dari reaksi kaum Essene atas kedatangan Yesus, yang jelas, nama mereka tidak pernah disebutkan dalam Kitab Perjanjian Baru, dan Yesus tidak pernah sekalipun menegur mereka, kecuali kaum Parisi dan Saduki.
“Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagiNya”. Ini berarti panggilan untuk bertobat. Persiapan seperti ini tetap berlaku sampai sekarang. Persiapan tersebut tidak cukup dengan bentuk lahiriah tetapi memasuki
tanggapan, suara hati, pengertian, kepekaan, daya cipta, motivasi, pikiran, keputusan serta perasaan kita. Kerajaan Sorga adalah dasar pertobatan. Bertobat bukan berarti meninggalkan pekerjaan, melainkan kita dimotivasi bekerja dengan motif dan dasar mengasihi orang lain. “Tunjukkanlah dengan perbuatanmu bahwa kamu sudah bertobat dari dosa-dosamu”. (bnd. Mat. 3:8).

IV. KESIMPULAN DAN TANGGAPAN
Konsep tentang pengharapan telah berlangsung sejak zaman Perjanjian Lama hingga zaman Perjanjian Baru. Sesungguhnya pengharapan akan Messias itu pasti terjadi dan telah terjadi di dalam kelahiran, kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus. Dalam Perjanjian Lama dikemukakan pengharapan-pengharapan Israel, seperti pengharapan tentang keluaran (Kel. 15:1-21; 20); tentang kidung peringatan dan perbuatan Tuhan (Maz. 77:3,20); Kidung Syalom (Maz. 85); janji Nathan kepada Raja Daud dan jawaban Daud (2 Sam. 7:7:11-24; Yes. 10:24-26; 11: 16; 43: 16-19; 48:20-21). Dan dalam Kitab Perjanjian Baru di Roma 5:1-5; 8: 14-30; 15: 13; 2:16-17; 2 Tes. 2:16-17; Titus 2: 14; 1 Petrus 2-5.
Israel mengharapkan keselamatan di masa depan, namun kini masa depan itu terpecah menjadi dua. Zaman yang baru telah dimulai, yang lama belum berakhir. Kita hidup diantara dua zaman, antara kedatangan Kristus yang pertama dan kedatangan-Nya kembali (yang kedua kali). Ini adalah zaman untuk bermisi, zaman untuk menyampaikan bahwa pengharapan Kristen tidak sia-sia, karena kemenangan Allah sudah pasti.
Jadi, eskhatologi Kristen bergerak di dalam tiga zaman: masa lalu, masa kini, dan masa depan. Pemerintahan Allah sudah datang, sedang datang dan akan datang dalam kepenuhanNya. Dalam kematian dan kebangkitan Yesus,
dengan pasti zaman baru telah dimulai dan masa depan dijamin; hidup dalam wilayah kekuatan dari jaminan keselamatan yang sudah diterima dan kemenangan yang terakhir sudah dipastikan, orang percaya terlibat dalam tugas yang ada di tangannya. Dalam pengertian ini, eskhatologi sedang berlangsung saat ini juga. Karena itu, suara nabiah “persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskan jalan bagiNya”, adalah ajakan/himbauan agar setiap orang sambil menunggu kedatangan Yesus yang kedua kali tetap berpartisipasi dalam kegiatan agama, sosial, dan politis untuk menjadi garam dan terang. Karena kita masih di dunia ini, tidak seperti pandangan kaum Essene yang menarik diri dan mengambil jarak dari setiap kegiatan bersifat duniawi yang cenderung bersikap dikotomis dan mempolarisasikan yang rohani dan jasmani (dualis).
Gereja terpanggil dalam pembangunan masyarakat, bangsa, dan negara untuk mengangani masalah-masalah konkrit, seperti keadilan, hak azasi manusia, kesenjangan sosial, korupsi, kolusi, kemiskinan, dan lingkungan hidup. Dan itulah salah satu yang dihindari kaum Essene yang harus dilaksanakan oleh gereja masa kini, kalau kita mau exis. Sebab gereja ada di dunia ini, sekalipun bukan berasal dari dunia.

Kepustakaan:

1. Drane, Jhon, Memahami Perjanjian baru, Pengantar Historis Teologis, Cetakan ke-4, (Jakarta, BPK Gunung Mulia, 2001).
2. Vriezen, C. Th, Agama Israel Kuna, Cetakan ke-2, (Jakarta, BPK Gunung Mulia, 1983).
3. Binti, G.D. Tommy, Catatan Penjelasan Kuliah Teologi Biblika 2, tgl. 12 dan 13 Februari 2008.
4. Sihite, W., Ringkasan Informasi Sejarah Perjanjian baru, ( Pematang Siantar, STT, 1976).
5. Jagersma, H., Dari Alexander Agung Sampai Bar Kokhba, Sejarah Israel Dari 330 SM -135 M, (Jakarta, BPK Gunung Mulia, 1994).
6. David, F, Hinson, Sejarah Alkitab Pada Zaman Alkitab, Cetakan ke-4, (Jakarta, BPK Gunung Mulia, 1996).
7. Ginting, E.P., Firman Hidup, (62), (Jakarta, BPK Gunung Mulia, Cetakan ke-1, 2003).
8. Abineno, Ch. J.L., Pengharapan Kristen, Cetakan ke-2, (Jakarta, BPK Gunung Mulia, 1983).
9. Bosch, J. David, Transformasi Misi Kristen, Sejarah Teologi Misi yang Mengubah dan Berubah, Cetakan I, (Jakarta, BPK Gunung Mulia, 1997).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar