SELAMAT BERGABUNG DENGAN BLOG KAMI, SEMOGA BERMANFAAT DAN KIRANYA TUHAN DIPERMULIAKAN ATAS SEGALANYA.

Rabu, 14 Juli 2010

EIGHT QUALITY CHARACTERISTICS OF CHURCH

EIGHT QUALITY CHARACTERISTICS OF CHURCH
( DELAPAN KARAKTERISTIK GEREJA BERKWALITAS)

I. PENDAHULUAN
Pertumbuhan dan perkembangan gereja menjadi salah satu pemikiran yang sangat serius dari masa ke masa, meskipun ada saja golongan yang tidak peduli sama sekali dengan perkembangan gereja. Akan tetapi bagi orang-orang percaya yang mengambil kepedulian sangat besar tentang pertumbuhan dan perkembangan gereja selalu mencari cara atau jalan dan juga metode untuk meningkatkan kwalitas dan kwantitas perkembangan gereja.
Ibarat dua orang yang menarik pedati sarat beban dengan empat roda persegi, jalan mereka sangat lambat, dan ketika dipertanyakan mengapa jalannya lambat, seorang dari mereka mengatakan “ karena beban kami sangat berat”, seorang lagi mengatakan “ jalan kami sedang mendaki terjal”. Sesungguhnya, adalah mereka tidak berjalan lancar karena menggunakan roda yang persegi. Demikian juga dengan gereja yang tidak berkembang , mungkin akan memberikan jawaban yang sama.
Tulisan ini mencoba memberikan beberapa karakteristik yang berkwalitas untuk mencapai perkembangan gereja. Pada prinsipnya temuan dalam tulisan ini adalah : Tuhan Allah sendiri telah mempersiapkan segala sesuatunya yang dibutuhkan oleh gereja untuk bertumbuh dan berkembang, hanya kita saja yang tidak menghiraukannya atau bahkan sama sekali tidak memperhatikannya sama sekali. Kita lebih banyak menggunakan kekuatan dan metode sendiri dan tidak konsisten dengan rencana Tuhan. Beberapa gereja bahkan lebih berorientasi pada bagaimana “menghasilkan buah” saja, tanpa memperhatikan “akar” dari pohonnya.
Mateus 6:28 :” Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal...”.
1 Kor. 3:6:” Aku (Paulus) menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan”.


Alternatif Natural
Usaha-usaha dalam menemukan karakteristik yang berkwalitas ini disebut alternatif natural (The “biotic” alternative), dimana yang menjadi tujuannya adalah membiarkan gereja-gereja Tuhan dengan sendirinya bertumbuh subur, daripada menghabiskan energi dengan program-program buatan manusia (Mat.6:28).
Perkembangan gereja secara natural (natural curch development) didasarkan pada perkembangan yang secara otomatis tersebut. Markus 4:26-29 menyebutkan: Lalu kata Yesus:” Beginilah hal Kerajaan Allah itu, seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu. Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu. Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba”. Inilah yang harus dilakukan oleh orang-orang percaya, “membiarkan” Tuhan bekerja.
Ada empat hal yang perlu diperhatikan dalam prinsip-prinsip perkembangan gereja yang natural, yaitu (1) karakteristik yang berkualitas, (2) strategi minimum, (3) prinsip-prinsip natural, (4) paradigma baru. Dan tulisan ini khusus membahas delapan karakteristik yang berkualitas.

II. KARAKTERISTIK BERKUALITAS
Karakteristik 1 : Kepemimpinan yang Ber”hikmat”
Buku-buku atau literatur yang membahas pertumbuhan gereja lebih banyak memusatkan perhatian pada proyek daripada orientasi kemanusiaan, lebih kepada tujuan daripada orientasi hubungan persaudaraan, lebih kepada auotorisasi daripada orientasi tim . Kata kunci pada karakteristik pertama ini adalah kepemimpinan yang ber”hikmat”, dan yang berwibawa.
Tanda-tanda atau ciri kepemimpinan yang berhikmat adalah: mampu memperlengkapi umatnya, memberikan dorongan/semangat, memotivasi dan sebagai penasehat agar orang memperoleh kepenuhan di dalam Tuhan. Mereka tidak mengambil seluruh tanggungjawab pada dirinya sendiri, melainkan ia mau berbagi dengan yang lain, dan mendelegasikan kepada yang lain, sehingga energinya tidak terkuras habis, dan inilah yang disebut spritual “self-organization”. Pemimpin yang ber’hikmat’ biasanya lebih sukses dalam mengembangkan gerejanya.
Pemimpin gereja yang bertumbuh bukanlah seorang superstar, atau pendeta yang terkenal. Hasil riset dari karakteristik berkualitas justru ditemukan dari para pemimpin gereja yang tidak terkenal. Pemimpin tehknokrat lebih sebagai “guru”, yang berperanan lebih kepada seorang manager, sedangkan pemimpin spritualitas cenderung kesulitan menjalankan berbagai bentuk kepemimpinan. Inilah yang membedakan pemimpin yang berhkimat dengan pemimpin tehknokrat dan pemimpin spritualitas.

Karakteristik 2: Orientasi pada Pendeta yang berbakat
Karakteristik dari Pendeta/pemimpin yang berbakat lebih diartikan sebagai “pemberian” Tuhan. Dengan sendirinya ia dapat memimpin dan melayani umatnya, karena memang Tuhan yang memberikan kemampuan/ bakat tersebut padanya. Demikian pula, pemimpin tersebut dapat menolong jemaatnya untuk mengenal masing-masing bakat pemberian Tuhan pada mereka, sehingga seluruh bakat-bakat tersebut dipersembahkan di dalam pelayanan gereja menuju gereja yang bertumbuh dan berkembang menuju pada kepenuhan Kristus.
Pihak tehknokrat beranggapan, bahwa bakat-bakat kepemimpinan yang dimiliki oleh seseorang dapat menjadikan pemimpin yang bersifat “voluntir”, oleh karena itu mereka menganjurkan agar berhati-hati terhadap pemimpin-pemimpin yang bersifat “voluntir” tersebut. Sebaliknya, kaum spritualitas berpendapat, dengan bakat-bakat yang mereka miliki menjadikan mereka pemimpin yang luar biasa, spektakular, atau supernatural, yang tentu saja tidak lagi membuat mereka “tetap” menjadi pemimpin yang spritual. Ke”spritual”an mereka telah bergeser dan tidak murni lagi.

Karakteristik 3: Kepemimpinan yang Mempunyai Semangat Kerohanian
Gereja-gereja pada umumnya kurang memperhatikan masalah kerohanian, pembangunan lebih difokuskan pada fisik gereja, bagaimana membangun gedung gereja yang megah dan besar atau memperluas rumah pastori, dengan kurang memperhatikan masalah spritualitas dari umatnya. Dengan mengajukan pertanyaan:” Apakah umat Kristen di gereja ini “on fire?” (bersemangat), “Apakah pemujian mereka penuh semangat dan antusias?”, maka bila jawabannya adalah “ya”, maka gereja tersebut dan pemimpinnya telah mempunyai semangat kerohanian yang besar dan hidup.
Karakteristik ini juga mendapat kritik dengan mengatakan, semangat saja tidak merefleksikan kepada kebenaran. Tentu saja ini benar, namun antusiasme dan semangat adalah salah satu dasar dari pertumbuhan gereja.

Karakteristik 4: Struktur Fungsional
Kaum spritual ragu-ragu untuk menerapkan struktur fungsional, mereka menganggap tidak spritual, sementara kaum tehknokrat menganggap struktur fungsional adalah suatu kekeliruan. Gereja-gereja tradisional menganggapnya sebagai suatu ancaman. Fungsional bagi mereka adalah: tidak teologis, pragmatis, dan bukan kriteria yang spritual.
Struktur Fungsional adalah “prinsip kepala-kepala bagian”, masing-masing bagian dibawahi seorang pemimpin, dan pemimpin wajib untuk menggembangkan bagiannya. Dengan memakai prinsip kepala-kepala bagian ini, evaluasi perkembangan gereja dapat lebih intensif dan terkontrol, karena mengaktifkan seluruh anggota gereja menjadi bagian-bagian dari pelayanan gereja.

Karakteristik 5: Layanan Ibadah yang Penuh Inspirasi
Dapatkah Ibadah bersifat “fun”? Orang-orang lebih banyak sekarang mengunjungi gereja-gereja yang lebih hidup dan lebih ‘fun’ kebaktiannya daripada mengunjungi gereja yang ‘tradisional’, yang membosankan dan kaku. Mereka berpendapat, dengan kebaktian yang lebih hidup dan ‘fun’, roh mereka terpanggil untuk lebih melayani Tuhan dan dapat memuji Tuhan dengan lebih bersemangat. Ibadah yang penuh inspirasi ini mendorong orang juga untuk melayani berdasarkan dari diri sendiri.
Kaum spritual menentang karakteristik ini dengan mengatakan, bahwa pemujian kepada Tuhan lebih diutamakan dari hati dari dalam diri seseorang (“inner person”), bukan secara fisik saja, seperti nyanyian yang keras dan tarian anggota tubuh yang tidak perlu. Menurut mereka, persiapan ibadah bukanlah masalah fisik saja, seperti; mencari seorang pengkhotbah yang terkenal, mempersiapkan moderator atau seorang pembawa acara yang hebat, atau seorang/kelompok penyanyi yang terkenal atau sekelompok penari yang gegap gempita dan alat musik yang modern, tetapi tergantung pada bagaimana persiapan rohani seseorang untuk memuji dan memuliakan Tuhan.

Karakteristik 6: Grup-grup Kecil yang Utuh
Grup-grup kecil yang utuh adalah kelompok kecil orang-orang kristen untuk saling melayani satu sama lain secara utuh dan menyeluruh, baik di dalam maupun di luar kelompok/grup dengan bakat/talenta yang ada pada mereka. Mereka dapat meneladani pemimpin mereka dalam menciptakan pelayanan yang utuh tersebut. Grup-grup kecil dimaksud dapat diimplementasikan dalam komisi-komisi gereja, seperti komisi sekolah minggu, komisi remaja, komisi pemuda, komisi wanita, komisi kaum bapak, komisi lanjut usia dan sebagainya hingga pada lingkungan dan gereja secara keseluruhan.

Karakteristik 7: Penginjilan yang Berorientasi pada Kebutuhan
Apakah setiap oarng Kristen terpanggil menjadi seorang penginjil? Jawabannya adalah ya! Maksud karakteristik penginjilan yang berorientasi pada kebutuhan adalah bahwa setiap orang Kristen dibutuhkan untuk menjadi penginjil, bukan harus menjadi seorang pendeta atau gembala sidang, tetapi menjadi penginjil sesuai dengan bakat dan talenta yang ada padanya sebagai pemberian Tuhan. Bakat atau talenta tersebut dapat dipakai di tempat ia bekerja, atau di tempat dimana ia sehari-hari berada, dengan selalu menunjukkan bahwa ia seorang pengikut Kristus yang sejati, sehingga orang-orang yang bukan pengikut Kristus dapat “melihat” Kristus ada dalam dirinya, sehingga dengan demikian orang lain semakin mengenal dan dengan pertolongan Roh Kudus, orang tersebut mau belajar untuk mengenal Kristus. Tidak semua orang Kristen harus menjadi pendeta, tetapi semua orang Kristen dituntut untuk hidup sesuai dengan Firman Tuhan.

Karakteristik 8: Hubungan Persaudaraan yang Penuh Kasih
Hubungan Persaudaraan yang penuh kasih merupakan karakteristik dari ukuran khidupan keseharian jemaat. Ia dapat diukur sejauh mana interaksi antar anggota jemaat itu berjalan. Misalnya, apabila dipertanyakan, berapa kalikah seseorang menjamu saudaranya minum teh dalam seminggu? Atau Seberapa murah hatikah gereja memberikan perhatian pada jemaatnya? Apakah pendeta memberikan perhatian yang sungguh-sungguh pada persoalan-persoalan umatnya? Seberapa seringkah “tawa” terdengar dari umat bersama pendetanya? Riset dengan pertanyaan yang kelihatannya sepele, tetapi dapat menjadi “tolok ukur” dari “keberadaan” sebuah hubungan yang mesra antara pemimpin dan yang dipimpin, antara sesama poekerja di ladang Tuhan dengan rekan sekerjanya.
Hasil dari hubungan persaudaraan yang mesra yang penuh kasih adalah membangun jemaat saling memperhatikan, saling peduli dan saling mendoakan. Perhatian yang tulus dan sapaan yang mesra dan lembut menjadi suatu “jembatan” untuk lebih mengkonkretkan isi Firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Orang tidak ingin kita orang percaya hanya “berbicara” tentang kasih, tetapi orang ingin melihat kita melaksanakannya dalam kehidupan kita sehari-hari.

Dalam menjalankan semua karakteristik di atas, tidak satupun ada karakteristik yang ‘hilang’; semua harus dilaksanakan, agar tujuan pencapaian greja yang bertumbuh dan berkembang dapat tercapai. Hasil tersebut tergantung juga dari bagaimana orang-orang di dalamnya melaksanakan orinsip-prinsip tersebut.Dan urutan-urutannya sangat jelas, dimulai dari pemimpin, kehidupan di jemaat hingga pribadi-pribadi orang percaya. Semua aspek benar-benar dilibatkan dalam kehidupan berjemaat.

Gereja Besar adalah Gereja yang “Baik”?
Jawaban singkat adalah ‘ya’. Sebuah gereja tidak dapat menjadi besar bila tidak diorganisir dengan baik, bila tidak melibatkan seluruh elemen didalamnya untuk bersama-sama memajukan pelayanan dan menghasilkan buah-buah roh dari persekutuan tersebut. “Besar” disini bukan saja dalam arti kwantitas, tetapi juga dalam arti kwalitas, baik dari segi pelayannanya maupun jumlah jemaatnya.

III. KESIMPULAN
Berbicara karakteristik yang berkualitas untuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan gereja berdasarkan kehendak Tuhan memang baik dan patut untuk diterapkan dalam kehidupan bergereja, berjemaat dan kehidupan beriman orang Kristen. Penemuan-penemuan karakteristik yang berkualitas ini adalah juga hasil pemikiran yang sangat dalam dari penemunya. Kalau semua itu dapat dilaksanakan dengan baik, pasti hasilnya juga sangat baik dan pencapaian yang dimaksud dapat terlaksana.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar